Uncategorized

Gadis Jeruk, review.

image

Hai halo, ini pertama kalinya saya posting tentang buku yang sudah dibaca. Buku yang beruntung nampang di sini berjudul Gadis Jeruk, novel terjemahan karya Jostein Gaarder. Termasuk ke dalam genre novel filsafat populer, jadi  jangan mengharapkan isinya fantasi tentang seorang gadis yang lahir dari sebutir jeruk. Atau pun kisah cinta anak gadis pemilik perkebunan jeruk.  Bukan kedua nya tentunya. Buku ini berisi surat seorang ayah kepada anak lelakinya yang saat membaca surat tersebut berusia 15 tahun. Apakah ayahnya bekerja di luar kota sehingga mereka berdua harus saling menulis surat untuk mengobrol? Bukan seperti itu. Surat yang disebutkan lebih seperti warisan dari ayahnya,  karena anak lelaki itu sudah menjadi yatim sejak umur 4 tahun.

Sebelum saya bahas isinya, saya ceritakan bagaimana menemukan buku ini. Dalam penampakan foto di atas kelihatan ya kalau buku ini saya dapatkan dari perpustakaan karena ada labelnya, tepatnya dari Perpusda Purwokerto. Saya terkadang menengok Perpusda untuk meminjam koleksi novel fiksi, sejarah atau buku apapun yang masih dalam keadaan fisik layak baca. Maklum, karena dibaca bersama banyak orang maka buku-buku perpustakaan tidak sedikit yang kehilangan beberapa lembar isinya. Sekarang sudah banyak bantuan buku-buku baru yang kondisinya  masih bagus dan berbau harum seperti di Gramedia, hehe. Secara pribadi saya akan  memilih  buku yang jilidannya masih kuat dan bersampul menarik, tanpa menghiraukan sinopsis singkat di sampul belakang. Apabila ilustrasi sampul buku tidak menarik  keinginan saya untuk membaca, biasanya yang terlalu lebay tentang drama percintaan, maka jangan harap saya mau  membaca isinya. Ada pepatah mengatakan “jangan nilai buku dari sampulnya”, itu jelas tidak berlaku bagi saya. Itu memang kebiasaan saya dalam membaca buku.

Buku Gadis Jeruk ini bersampul depan indah, dengan ilustrasi seorang perempuan memegang keranjang penuh jeruk. Kebetulan saya tertarik membacanya karena penulisnya adalah Jostein Gaarder, yaitu penulis buku best-seller Dunia Sophie. Katanya sih Dunia Sophie  isinya bagus, tapi saya  belum punya  kesempatan untuk membacanya.  Buku Gadis Jeruk ini terbitan  Mizan, salah satu  Gold Edition pula, jadi salah satu alasan pula saya meminjam buku ini.

Bab-bab pertama saya tersenyum lebar membacanya, Gaarder membawa saya ke imajinasi-imajinasi yang bertumpuk. Saat tokoh ayah mulai mengejar si  Gadis  Jeruk, dari mana dia berasal dan bagaimana usahanya untuk mencari tahu. Anak lelaki yang  sedang membaca suratnya juga membawa saya ikut membuka mata tentang Teleskop Ruang Angkasa Hubble. Dia membuat saya bermimpi melihat banyak bintang di langit suatu malam saat tertidur setelah membaca buku ini. Pengetahuan tentang pengamatan ruang angkasa dan juga bumi disisipkan dalam bab awal, dan di akhir cerita. Bahkan di halaman kedua tertulis halaman website Teleskop Ruang  Angkasa Hubble yaitu http://hubblesite.org, sampai saya menulis ini belum mencoba berkunjung ke situsnya, nanti setelah ini selesai di posting.

Objek buah jeruk yang menjadi misterius dijabarkan setelah lebih  dari setengah buku, kenapa ada begitu banyak jeruk yang selalu dibawa sang gadis.

image

Saya sisipkan sepenggal dialog halaman 159, antara si Gadis Jeruk dan tokoh ayah ketika akhirnya mereka bertemu. Makjleb sekali dialog ini, karena alasan si Gadis Jeruk memilih jeruk di pasar begitu lama dan teliti karena memang tidak ada dua jeruk yang persis, layaknya dua perempuan tidak ada yang persis sama di dunia ini. Jan Olav yaitu sang tokoh ayah, akhirnya menyadari kalau perempuan yang begitu membuatnya penasaran sudah merancang pertemuan mereka dengan detail.

Jadi selain jeruk, ruang angkasa lalu apa lagi? Ternyata ada kisah cinta yang romantis di dalamnya. Layaknya dongeng Cinderella, yang memuat peraturan bahwa Cinderella harus pulang dari pesta sebelum pukul 12 malam, kisah dalam surat sang mendiang ayah  juga menyebutkan peraturan-peraturan dalam dongeng percintaannya.

Peraturan yang  harus dihadapi tokoh ayah apabila ingin  bertemu  dengan si  Gadis Jeruk, ternyata hanya awal dari kecerdikan Gaarder untuk membawa kita ke suatu pengembaraan filsafat. Tentang kematian salah satunya, diceritakan tokoh ayah tahu kematian akan segera menjemputnya saat tiba-tiba mengidap suatu penyakit kronis. Bukan tentang apakah ada kehidupan setelah kematian, tetapi lebih kepada kehidupan itu sendiri. Bagaimana kita akan memulainya, apakah kita berani memulainya, walau tahu akan berakhir juga pada kematian. Saya pikir tokoh sang ayah sudah mewariskan surat yang begitu indah kepada anak lelaki yang bahkan tidak bisa mengingat wajahnya.

Tokoh dalam buku ini hanya sedikit, Gaarder menulis dengan lihai sampai-sampai saya tidak bisa menebak bahwa tulisannya sedang memberikan kejutan yang membuka keterkaitan antar tokoh. Pada akhirnya saya memberi 5 bintang rekomendasi untuk buku ini.

Ada kalimat yang akan saya jadikan penutup posting kali ini, bagus dan penuh semangat untuk ukuran orang yang tahu dirinya akan meninggal. Sang tokoh ayah mengakhiri isi suratnya dengan kalimat berikut.

“Akan tetapi, impian tentang sesuatu yang tak mungkin itu memiliki namanya sendiri. Kita menyebutnya harapan”, halaman 216.

Harapan membuat kita terus bermimpi dan percaya akan adanya kekuatan di luar semesta yang sudah mengatur kehidupan. Harapan juga dapat mengesampingkan ketakutan akan akhir kehidupan.

Buku yang indah, saya rekomendasikan untuk membacanya, bagi remaja atau para orang tua. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s