Uncategorized

Di Kaki Bukit Cibalak, review.

wpid-img_20150120_164943.jpg

Penulisnya Ahmad Tohari memang mempunyai ciri khas kedaerahan yang sangat kental di tiap karya sastranya, begitu juga di novel ini. Di Kaki Bukit Cibalak merupakan novelnya yang terbit pertama kali terbit akhir tahun 1979 melalui koran Kompas, begitu yang tercantum di biografi beliau.

Setting cerita berada di desa Tangir, kemudian Jogja dan tak luput nyempil disebutkan juga kota Purwokerto, kota asal Ahmad Tohari. Novelnya dicetak pertama oleh penerbit Gramedia tahun 1994, dan yang saya baca adalah cetakan kedua yaitu tahun 2001. Novel ini saya dapat dari hasil pinjam koleksi Perpusda Purwokerto Banyumas, dengan keadaan fisik jilidan dan sampul masih cukup baik. Terbilang tipis, hanya 170 halaman, tapi perlu perpanjang pinjaman satu kali karena bapak saya ikutan baca juga, apakah isinya menarik sehingga bapak yang jaraaaaang sekali membaca tiba-tiba ikutan baca novel ini?

Pastinya karena saat awal saya baca novel ini, ada beberapa istilah dalam bahasa Jawa yang saya tidak tahu artinya, lalu bolak balik bertanya pada bapak. Lalu saya katakan ke beliau bahwa novel tersebut karya Ahmad Tohari, maestro novel sastra Banyumas. Tanpa bilang apa-apa, sore hari berikutnya bapak sudah setengah jalan menikmati novel ini. Nampaknya beliau penasaran bagaimana karya asli Ahmad Tohari, secara mereka berdua lahir di era yang hampir bersamaan juga sama-sama asli putra Banyumas. Beda nya bapak saya bukan penulis, hehe.

Bab-bab awal diceritakan pemilihan lurah desa Tangir yang dimenangkan pak Dirga, seorang yang terkenal dengan pribadi preman. Penjudi dan gemar gonta-ganti istri. Sudah jelas pak Dirga sebagai tokoh antagonis dalam cerita ini. Bagaimana bisa seseorang dengan kepribadian seperti itu bisa terpilih menjadi lurah? Apakah warga desa Tangir rata-rata memang preman sehingga mau memilih lurah seperti pak Dirga? Bukan, bukan seperti itu.

Hanya saja warga desa Tangir masih begitu lugu. Kebiasaan mereka nrimo dengan keterbatasan, seadanya, dan kemiskinan. Saat itu televisi masih menjadi barang langka, membatasi pengetahuan mereka terhadap kota-kota besar yang bertumbuh di luar desa mereka. Kalaupun mereka menonton pun, fokusnya bukan pada pengetahuan yang bermanfaat. Ada warga desa yang berseloroh mungkin obat pelangsing yang di iklankan di televisi bisa menyembuhkan penyakit beri-beri, saya terbahak membaca bagian ini.

Singkat cerita mereka nrimo dan tidak tertarik dengan siapa lurah yang dapat membangun desa mereka ke arah yang lebih baik. Keadaan yang tidak jauh berbeda dengan perpolitikan sekarang, rakyat kecil masih disetir oleh kekuasaan tertentu, hanya sebentar saja ikut dalam kemeriahan masa kampanye presiden. Ups, di sini saya tidak mau membahas politik yah. Ciri khas karya Ahmad Tohari selain kekentalan budaya daerah juga ada isu-isu politik, hubungan antara penguasa dan rakyat kecil.

Lalu masuk ke tokoh protagonis, bernama Pambudi, yaitu pemuda dari Tangir yang memperjuangkan idealisme dan kebersihan hati nuraninya. Jangan bayangkan idealisme seperti rata-rata pemuda sekarang yang doyan mengkritisi pemerintah. Pambudi, rela melepas jabatannya sebagai pengurus koperasi desa di Tangir demi meninggalkan praktik korupsi yang mengusik nuraninya. Nah, jaman sekarang, apa ada yang seperti itu? Rata-rata orang gemar mengkritisi pihak pemegang kekuasaan, tetapi bila sudah diberi jabatan dan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri dia akan diam dan ‘mati’. Ibarat aksara Jawa, ha na ca ra ka, dst,,, yang akan mati bila sudah dipangku.

Tidak dengan Pambudi, dia bertekad membantu warga Tangir bernama mbok Ralem, seorang janda miskin beranak dua, yang membutuhkan pengobatan gratis untuk kanker di lehernya. Pambudi terenyuh dengan kemiskinan si mbok Ralem dan dua anaknya. Apalagi lurah baru tidak mengabulkan permohonan pinjaman dana untuk mbok Ralem memeriksakan penyakitnya di luar kota. Pambudi terenyuh dengan keadaan mereka, dia mengundurkan diri dari kepengurusan koperasi desa, dan membobol tabungannya untuk membantu mbok Ralem berobat ke Jogja.

Perjalanan Pambudi ke Jogja ini yang mengawali kehidupan barunya keluar dari kungkungan bukit Cibalak. Dia berinteraksi dengan pemilik surat kabar Kalawarta, teman lamanya yang mendorongnya melanjutkan kuliah, memperoleh media mengalahkan si tokoh antagonis dalam cerita ini, juga akhirnya bertemu dengan sesosok gadis yang jauh berbeda dengan pendamping impiannya.

Saya sebenarnya bingung menulis review buku ini, memang bukunya tipis tapi isinya berat, hikssss…. Ada bahasan politik, idealisme, juga sisi kemanusiaan diceritakan di sini. Saya jauh lebih menikmati membacanya dari pada menulis reviewnya. Baiklah, daripada bingung saya akan kutip kalimat-kalimatnya.

“Apakah di dunia ini ada yang lebih jujur, lebih kuat untuk menampilkan perasaan manusiawi selain sepasang mata?,”

halaman 46. Pandangan mata yang menagih janji kemanusiaan, pandangan mata anak-anak mbok Ralem pada Pambudi selepas mbok Ralem menjalani pengobatan di Jogja. Langsung terbayang di benak saya pandangan sayu anak kecil, kurus, tak sanggup berkata hanya bisa memandang dengan diam.

Mbok Ralem akhirnya sembuh dan biaya pengobatan tertutup dengan sumbangan para donatur melalui surat kabar Kalawarta. Di halaman 55 saya kutip perkataan pak Barkah, pemilik Kalawarta saat mbok Ralem dan Pambudi berpamitan akan kembali ke desa Tangir.

“…Juga karena kalianlah aku merasa yakin bahwa tidak ada sesuatu pun telah hilang dari diri kita sebagai manusia. Memang, si Anu itu jarang hadir di antara kita. Dia jarang muncul di jalan-jalan, pasar, atau pabrik, bahkan kantor-kantor sekalipun. Tetapi bagaimanapun juga si Anu masih ada. Kita sendiri yang baru saja membuktikannya: Kemanusiaan.”

Menohok sekali bukan? Kota Purwokerto juga diceritakan sedikit di bagian ini, jangan dilewatkan ya.

Setting pedesaan ditonjolkan oleh penulis. Bukit Cibalak diceritakan sebagai evolusi karang pedalaman laut yang muncul ke permukaan bumi. Setelah berabad-abad berubah menjadi hutan lebat, ditanam pohon jati saat penjajahan Belanda, digunduli saat pendudukan Jepang, dan akhirnya kembali menjadi bebukitan karang tandus setelah masyarakat diajari cara melenyapkan sisa-sisa bonggol pohon jati, pembakaran hutan.

Ohya, kalimat penutup buku ini khas sekali dengan Ahmad Tohari, diakhiri dengan frasa yang mengambangkan cerita. Saya tidak paham betul apa istilah yang tepat untuk akhir novel yang tidak happily ever after. Seperti ada pertanyaan yang sengaja dibiarkan tanpa jawaban. Bagian akhir inilah yang paling saya sukai, bolehkah saya beri bocorannya di sini? Hehe.

wpid-20150125_214935.jpg

Walau singkat, buku ini alurnya santai. Tidak ada kesan potong adegan sana-sini. Sangat menghibur untuk ukuran sastra penulis asli Indonesia.

Terakhir saya rekomendasikan buku ini untuk pembaca muda yang bosan dengan tema percintaan remaja, juga pembaca yang ingin menikmati karya sastra sekaligus self motivation tanpa perlu takut menjadi pusing. Buku ini saya beri bintang 4, minus satu bintang, karena saya harap ada lebih banyak halaman lagi yang bisa dibaca, hehe. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s