Uncategorized

The Ring of Solomon, review.

image

Nah akhirnya buku ini akan saya review juga, padahal sudah berbulan-bulan lalu saya baca. Bukannya males nulis review, tapi memang saya baru banget membuat blog. Berasa jadul saya, baru pernah punya blog yang agak serius dan sesuai dengan passion membaca saya. Apalagi ada teman yang memberi info tentang BBI (www.blogbukuindonesia.com), jadi saya berniat sekali untuk gabung di situ, tapi setelah membaca persyaratan masuknya, saya perlu menambah postingan tentang buku di blog ini.

Pastinya saya hanya akan menulis tentang buku yang sudah selesai saya baca, postingan kali ini saya memilih buku Cincin Solomon, terjemahan dari buku Bartimaeus berjudul The Ring of Solomon dengan penulis Jonathan Stroud. Buku ini terbit pertama kali tahun 2012, dengan ISBN: 978-979-22-8943-5, tapi saya baru mendapat kesempatan membelinya di bulan Oktober 2014. Tertarik membeli karena sudah membaca 3 buku Bartimaeus sebelumnya.

image
Bartimaeus Trilogy.

Buku ini masuk ke genre kids fiction dengan tema dunia per-jin-an, hehe, jadi si Bartimaeus ini memang digambarkan sebagai sesosok jin yang hidup (entah deh jin itu hidup atau tidak) berdampingan dengan para penyihir. Penyihir di sini bukan seperti cerita Harry Potter, tetapi lebih ke para manusia yang menggunakan para jin sebagai budak mereka. Nah, terlihat bedanya kan dengan cerita Harry Potter. Dalam benak saya para penyihir tersebut lebih seperti para dukun jaman sekarang, yang menggunakan kemenyan dan sesajen untuk memanggil roh-roh atau hantu. Serem yah.

Terlihat buruk kan, karena memang para penyihir di novel Bartimaeus merupakan musuh para jin. Tokoh-tokoh jin dalam trilogi Bartimaeus menjadi tokoh utama, mereka digambarkan tertindas oleh para penyihir. Mereka dipaksa masuk ke pentacle pemanggilan jin oleh para penyihir, ditarik dari dunia asli mereka yang kata Bartimaeus sih, tenang, damai, dan melayang-layang. Penyihir akan membebaskan jin kembali ke dunia asalnya apabila tugas yang diberikan sudah selesai. Apabila si master, penyihir pemanggil, meninggal dunia maka jin juga dapat kembali ke alam mereka walau tugas yang di embannya belum selesai.

Sampai sini saya menulis review sepertinya terlihat buku ini berisi hal-hal yang gaib dan tidak cocok untuk masuk ke bacaan anak-anak ya? Tenang tidak semistis itu, malah sebaliknya, si tokoh utama yaitu Bartimaeus membuat buku ini menjadi buku fiksi anak yang menghibur dan kocak, dan si tokoh utama sangat tidak mudah dilupakan. Nanti akan saya ceritakan kenapa. Saya tidak hapal dari mana asal dan pertama kali pemanggilan si Barty (saya singkat namanya) karena saking banyaknya dia bercerita tentang “kehebatannya” dalam berbagai pemanggilan. Salah satu pemanggilan yang terkenal adalah saat jin ini muncul dalam cerita Cincin Sulaiman. Dalam trilogi Bartimaeus, cerita lebih bersetting modern, karena si Nathaniel, aster Barty saat itu hidup di masa-masa sekarang.

Dalam buku ini Barty dipertemukan dengan seorang master yang hidup saat era Raja Solomon. Pertama membaca sinopsisnya saya ragu, apakah buku ini akan meracuni iman saya sebagai seorang Muslim. Agama yang saya anut meyakini kebenaran nabi Sulaiman, yang mempunyai kelebihan dapat berkomunikasi dengan bangsa jin. Akhirnya saya dapat meneruskan membaca buku ini setelah berbicara kepada diri sendiri (bahaya nih, ngomong sendiri) bahwa novel ini hanya bacaan yang ditulis secara fiksi untuk kegiatan hiburan, dan secara tegas memisahkan dengan dengan keyakinan saya terhadap Nabi Sulaiman.

Kembali lagi ke tokoh Barty, jin ini mempunyai karakter kuat, cerdas, pandai bersilat lidah, tukang menghina, terlampau humoris dan sangat narsis. Inilah yang menjadikannya susah dilupakan, dia ini pintar sekali bersilat lidah. Sampai-sampai halaman buku ini dipenuhi oleh catatan-catatan kaki, yang berisi berbagai pengalaman pribadi dengan master-master terdahulunya yang secara narsis dia jabarkan, terkadang memuat umpatan kasar.

image
Yang engga suka buku ber foot note, mending liat foot note di buku ini. Hahai

Tapi memang itulah ciri khas Barty, sesosok jin yang kocak dan terlampau iseng. Adanya yang melampaui umur manusia juga terlihat dari penjabarannya tentang sejarah-sejarah tempat di dunia. Misalnya dia bercerita ikut terekam dalam salah satu lukisan di makam Fir’aun Ramses III, bangga sekali jin ini.
Kelebihan lain yang menjadikannya sebagai tokoh utama yaitu jin ini melewati beberapa pemanggilan oleh master yang unik. Unik, karena di buku-buku sebelumnya, penyihir yang menjadi masternya adalah pemuda pemudi dengan misi yang berbeda dengan kebanyakan penyihir zaman itu. Begitu pun di buku ini, Barty bertemu dengan Asmira, seorang wanita muda keturunan pengawal ratu Sheba. Betul, Asmira bukan seorang penyihir tulen. Dia secara kebetulan bertemu dengan Barty saat sedang dalam penyamarannya menerobos masuk ke Jerusalem. Asmira diutus oleh ratu Sheba untuk menjalankan misi khusus berkenaan dengan cincin Solomon yang legendaris. Negeri asalnya berada dalam situasi berbahaya, dan Asmira bertekad menyelesaikan misi yang di embankan ratu kepadanya. Walau terpaksa dia harus melakukan pemanggilan jin untuk menjadi budaknya, yang sebetulnya bertentangan dengan kebiasaannya.

Bagian yang seharusnya paling menegangkan malah di isi Bartimaeus dengan kekonyolannya yaaaaaaaang super iseng. Tiba-tiba cincin sakti berubah menjadi cincin cumi-cumi, bagian ini ndak bisa deh saya lupain. Hahahaha

4 bintang dari 5 deh, bisa dibaca mulai anak-anak SD, tapi perlu bimbingan ortu, terutama karena sifat sarkasmenya si Barty.

Sekian, semoga blog ini cepat terisi book review saya berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s