fiksi

Ranah 3 Warna, review.

image

Yang saya punyai buku cetakan ke-10, dengan ISBN: 978-979-22-6325-1.

Laris bener yah bukunya, bisa sampai cetakan ke sepuluh. Ini buku ke-2 setelah buku best seller A. Fuadi sebelumnya yaitu Negeri 5 Menara. Dimulai dengan sampul bagian dalamnya iluatrasi peta, lucu deh, semacam Lord of the Ring.
Tokoh utama masih si Alif yang mulai meniti statusnya sebagai mahasiswa.

Bagaimana dengan hanya kerja keras ternyata tidak cukup untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa perantauan. Alif mengaplikasikan ilmu sabar yang didapatkannya dari Pondok Madani, kisah ini diceritakan di Negeri 5 Menara, buku pertama A. Fuadi.

image
Ini pembatas bukunya, cakep deh, berbentuk daun maple warna merah.

Ilmu baru juga buat saya pribadi. Apakah itu???
Ternyata sabar bukanlah menjadi pasif, tapi aktif. Aktif menahan godaan untuk mengeluh. Semacam itu, lupa gimana redaksinya, motivating banget deh. Hiks, ini saya update di kantor, bukunya di rumah. Nanti saya edit posting ini deh, saya kopikan kata-katanya.

1/3 buku cukup membuat saya bosan, hehe, penulisannya terlalu banyak penjabaran dan bertele-tele. Tapi cerita cukup menarik begitu masuk ke bagian Alif akhirnya berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri. Bertemu dengan mahasiswa lain yang ikut program beasiswa, dari Indonesia juga dari Quebec Kanada. Belum lagi wawancara dengan orang Indian asli dan tokoh politisi asli Quebec Kanada. Alif yang memang punya passion di dunia jurnalistik berkesempatan magang di stasiun televisi lokal Quebec.

Seru sih bagaimana Alif menjabarkan kondisi pemilu di Indonesia, dibandingkan dengan pemungutan suara di Quebeq yang fair. Juga bagaimana sang orang Indian terpana dengan kisah perburuan babi hutan di Indonesia. Saya juga suka penjabaran anak kampung yang bertemu dengan salju pertamanya di luar negeri (maksudnya saya iri). Hehe.

Hanya satu alur yang saya kurang sukai yaitu cerita tentang Raisa, biasa lah dunia per asmaraan akil balig laki-laki, hehe. Si Raisa ini perempuan yang ditaksir Alif githu deh. Tapi yang saya engga demen, seperti ko’ ndak cocok aja Alif cerita tentang asmara-asmaraan. Cerita tentang Raisa malah bukan menjadi bumbu yang manis, tapi semacam “yaelaaah ini ko’ kaya tekanan dari editor harus ada kisah cintanya”.

Akhirnya saya kasih 2,5 bintang dari 5. Cukup deh ya, buat novel yang katanya best seller. Walau agak membosankan cukup terhibur dengan imajinasi yang berkembang karena ilustrasi peta di sampul dalamnya.

Dan walau membosankan tapi tetep saya beli juga buku ke-3 nya, yaitu Rantau 1 Muara. Segel belum dibuka, karena buku ini saya niatkan masuk dalam kotak seserahan untuk pernikahan saya. Betuuuuuul, saya mau menikah, horay.

Cukup sedikit bocoran dari saya tentang review buku berikutnya, terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s