fiksi

Rantau 1 Muara, book review.

image

Akhirnya bisa juga nge review ini buku. Sesuai janji saya di 2 post sebelumnya.
Daaaaan, karena ini buku adalah salah satu isi seserahan nikah, maka sekarang saya adalah seorang istri.
Horey 😆😄.

Engga sengaja juga milih buku ini buat salah satu isi seserahan, ko’ ya judulnya pas dengan after married saya. Setelah menikah satu minggu saya langsung ikut merantau dengan suami. Pas dengan judul bukunya Rantau 1 Muara.

Buku ini merupakan trilogi terakhir Negeri 5 Menara, sebelumnya saya sempat review buku ke-2nya (http://wp.me/p5JPsR-p).

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama.
ISBN : 978-979-22-9473-6
Genre : Fiksi
Penulis : A. Fuadi
Halaman : 407
Cetakan : Juni 2013 (ke-2)

Buku dimulai dengan sampul depan polos, sedikit ilustrasi saja. Tapi setelah diamati birunya warna sampul adalah samudera dengan 2 benua di ujung-ujungnya. Serta terdapat 1 perahu kecil di ujung kanan bawah berisi 2 orang sedang mendayung.

Begini penampakan bookmark nya:

image

image

Selalu suka dengan pembatas buku A. Fuadi. Kali ini mantra yang Alif gunakan adalah Man Saara ala Darbi Washala. Dan juga selalu suka dengan gambar peta yang ada di balik sampulnya. Kali ini peta Washington DC di balik sampul depan. Untuk sampul belakang ada New York City.

Nah, jadi ketahuan kan, si Alif sang tokoh utama merantau kemana. Tapi, seperti biasa A. Fuadi mengawali kisahnya panjang lebar. Mulai dari ditagih uang kos yang menunggak sampai telat memdaftar ulang semesteran di kampusnya. Ya biasa deh, yang diceritain susahnya dulu. And then mulai sedikit ceria karena ada pemasukan dari hasil menulis di surat kabar.

Tapi tidak lama jadi sedih lagi. Masa awal penganggurannya si Alif setelah wisuda berbarengan dengan konflik tahun 1998 di Indonesia. Ya githu deh, katanya sih agak susah nyari kerja gara-gara krismon, jadi kolom tulisan yang memuat tulisannya secara tetap dihilangkan oleh pak Endang, redaktur koran Suara Bandung. Kasian ceritanya, sampai di datangi debt collector yang nagih hutang.

Rejeki Alif ternyata ada di Jakarta, tempat redaksi Derap yang merekrutnya menjadi salah satu wartawan. Memang ceritanya diangkat dari kisah perjalanan hidup si penulis. Kalau di real life Derap itu majalah Tempo. Waw, keren ya jadi wartawan di situ. Walau begitu diceritakan pimpinan redaksinya yang agak konyol, yaitu punya kebiasaan memakai sarung. Ternyata memang di Derap semua orang memiliki pangkat Sersan. Yaitu: Serius tapi Santai. ^^
Jadi okey saja bersarung asal kinerja juga okey.

Dengan team yang baru Alif mulai menemukan jalan hidupnya, yaitu dengan menulis. Walau diejek oleh kawan sekampungnya, si Randai, ko’ lulusan Hubungan Internasional cuma jadi kuli tinta, tapi dia tetap yakin itu pilihan terbaiknya.

“Tahukah kalian, kalau sesungguhnya menulis itu sesungguhnya membuat kalian awet muda”?

-halaman 39.
Karena walau seorang penulis sudah terkubur jasadnya, karyanya tetap hidup, itulah maksudnya membuat awet muda.

Alif diceritakan mewancarai pejabat-pejabat penting Indonesia pada masa itu. Tapi saya ndak menulisnya di sini, langsung ke bagian dia ketemu Dinara. Sosok wanita yang menggetarkan hatinya, haissss…. Di review buku Ranah 3 Warna, saya benar-benar tidak suka ketika Alif mengisahkan Raisa, wanita pujaannya saat itu. Tapi ketika Dinara masuk di cerita ini, woooow, beda sekali. Ketebak ya kalau Dinara yang bakal jadi teman merantaunya sesuai judul buku.

Suka juga cerita proses mereka sampai akhirnya menikah. Mulai dari LDR beda benua. Alif saat itu mendapat beasiswa di Amerika, sedang Dinara masih bekerja di Derap di Jakarta, tempat mereka berdua mulai mengenal. Lalu Alif harus mengirimkan buku crossword koleksi Amerika untuk merayu calon bapak mertua agar izin menikah didapat.

Setelah membaca 2/3 buku, baru deh mulai Alif merantau kembali, tapi sudah ditemani istri. Nah, mulai deh cerita serunya. Saya menunggu sampai bab tragedi 11 September 2011 di New York. Tapi cerita itu ada di bab-bab terakhir. Nanti ya saya ceritakan. Dinara cukup puas menjadi ibu rumah tangga di Amerika selama bulan-bulan pertama tinggal di sana. Sampai akhirnya keluar juga izin kerja orang asing untuknya. Tidak berapa lama nongkronglah Dinara bekerja di toko buku Borders, salah satu book seller terbesar di dunia. Wah, ini salah satu cita-cita saya nih, surga dunia kali ya bisa bekerja di toko buku.
Cerita yang bikin ngiler adalah ada satu bab berjudul Sakura dan Segerobak Buku. Masuk musim semi di Washington DC mereka menikmati Cherry Blossom Festival, festival bunga sakura (sebutan Cherry Blossom di Indonesia). Lalu Segerobak Buku yang dimaksud adalah kesempatan Dinara sebagai salah satu pegawai Borders untuk membawa pulang buku sisa pajangan di toko. Waaaaaw, bikin ngiler kan. Mereka berdua sampai memakai gerobak dorong untuk membawa laundry, bukan berisi cucian kotor, tapi berisi tumpukan buku, gratis pula!!!

Pasangan ini mempunyai satu sahabat dekat, yaitu mas Garuda. Imigran asal Indonesia juga seperti mereka. Bedanya mas Garuda bukan merantau karena urusan akademik seperti Alif, tapi dia merantau untuk mencari banyak uang. Perbedaan mereka berdua diceritakan A. Fuadi dengan baik.
Yaitu:
1. Alif merantau untuk penghidupan lebih baik, bebas dari urusan keluarga yang mungkin akan dia dapatkan bila tinggal di Indonesia.
2. Mas Garuda seperti menjauhi masa kelamnya di Indonesia, walau tujuan dia merantau memang untuk mudik ke tanah air dan menikahi tunangannya.

Tapi tidak selamanya Dinara bekerja di toko buku. Ada kesempatan terbuka untuk kembali menjadi wartawan sebuah media asing yang berkantor di DC. Mereka berdua pada akhirnya bekerja dalam satu kantor lagi, menjadi pasangan reporter yang dengan performa menonjol. Apaan si performa, ko’ kaya iklan oli motor ya, wkwkwk. Kehidupan berkecukupan pun mereka dapatkan, menjadi salah satu pasangan DINK di Amerika. Double Income No Kids. Keren deh pokoknya.

Kami menjelma bukan sekadar sepasang suami-istri, kami adalah dua sahabat.

-halaman 330.

Tapi hey, saya yang dari awal tidak ngeh dengan maksud judul buku, mulai paham ke arah mana arah perahu kecil yang didayung dua orang di ilustrasi sampul serta bookmark. Rantau 1 Muara, merantau menuju 1 muara, satu akhir. Muara seperti apakah yang di tuju Alif dan Dinara?

Melewati tragedi 11 September, yang menjadikan mereka kehilangan kontak dengan mas Garuda. Rasa kehilangan Alif sangat mendalam, karena mas Garuda sudah dianggap sebagai kakak kandungnya. Suasana memcekam tragedi tersebut diceritakan Alif dengan jujur sekali. Bagaimana para keluarga korban tragedi merasakan trauma, juga usahanya untuk menemukan mas Garuda di New York. Sangat sulit mencari mas Garuda, terlebih statusnya sebagai ilegal imigran di Amerika.

Waktu berlanjut, kesedihan Alif dengan hilangnya mas Garuda membawanya ke suatu perenungan yang dalam.
image

Setelah 2 tahun tragedi berlalu, mulailah bab-bab akhir buku. Akhirnya hampir selesai juga nih buku. Saya baca di sela-sela pindahan ikut suami, dan transisi blog ini jadi anggota BBI. Nah, mulai deh diceritain muara yang dituju Alif.

Yaitu

One way ticket to Jakarta, Indonesia. For two, please”.

Begitu percakapan Alif kepada pegawai kios travel. Akhirnya diputuskan mereka berdua mudik ke tanah air. Tapi tidak semudah itu keputusan dibuat. Dinara yang pertama mengusulkan kembali ke Indonesia. Alif sempat ragu karena poin nomer 1 di ulasan saya tentang perbedaan merantau Alif dan mas Garuda. Setelah reuni singkat dengan anggota Sahibul Menara di London, keputusan mudik for good menjadi bulat.

Waaaah, jadi orang Indonesia biasa lagi donk mereka. Ternyata tidak. Bagus deh buat jadi ending buku ini. Ndak saya ceritakan di sini.

Akhirnya, saya memberi 4 dari 5 bintang. Walau merupakan bagian trilogi, sah saja membacanya sebagai buku tunggal. Penulisan A. Fuadi di buku ini nyaman dibaca, sampai akhir buku.

Kutipan terakhir yang paling saya suka menutup review buku saya kali ini, dari halaman 376. Sangat menginspirasi bagi para pasangan suami istri, terlebih yang merantau jauh dari keluarga.

A couple who travel together, grow together

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s