fiksi

Sherlock Holmes-Teka-teki Kotak Karton, review.

image

Teka-teki Kotak Karton
Judul Asli : The Adventure of The Cardboard Box
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Narasi, cetakan pertama 2009.
Halaman : 80
ISBN (10) 979-168-167-8
ISBN (13) 978-979-168-167-4

Wah, seneng nih saya bisa nge review buku Sherlock Holmes punya sendiri. Biasanya pinjem dari Perpusda atau baca e book nya (btw, ada loh e book nya lengkap di Play Store Android). Nah ini karena punya sendiri males-malesan baca. Dapet beli dari bazar buku dengan harga Rp. 15.000,- saja, senengnya murah beneeeer. Cerita di buku ini ada 2, pertama sesuai judul bukunya, dan yang ke-2 berjudul Rahasia Gedung Tua Shoscombe.

Cerita pertama di awali dengan Sherlock yang memotong lamunan Dr. Watson. Tidak hanya memotong lamunan saja, tapi Sherlock juga menebak dengan tepat apa yang dilamunkan Watson. Walau terlihat seperti sulap, tapi selalu saja Sherlock bisa menerangkan secara logis ke Watson (dan saya) bagaimana Perang Saudara dan masalah internasional masuk ke lamunan Watson. Dilanjutkan dengan datangnya sebuah kasus. Detektif Lestrade meminta bantuan Holmes memecahkan sebuah kasus di daerah Croydon. Tempat seorang wanita usia 50 tahunan tinggal dalam masa pensiunnya.

Nah, judulnya kan kotak karton tuh. Kotak karton inilah yang menjadi awal mula penyelidikan kepolisian lalu kemudian oleh Holmes. Sebuah kotak karton dikirimkan ke Miss. S. Cushing, di Croydon. Wanita ini dari kalangan baik-baik dan terhormat. Bagaimana mungkin dia mendapatkan kiriman paket yang berisi potongan telinga manusia. Wew, saya memilih buku ini karena judulnya yang paling tidak seram, tapi ko’ ada bagian menjijikan ini yah.

Walau dikira itu sekedar paket iseng, tapi Holmes langsung menyimpulkan bahwa telah terjadi pembunuhan. Karena memang belum ada orang yang mengumumkan pencarian sebelah telinganya yang hilang. Konyol nih. Setelah wawancara dengan Miss. S. Cushing, lalu Holmes mendapatkan cerita lengkap tentang keluarganya. Tentang saudaranya bernama Sarah Cushing, yang rumahnya didatangi oleh Holmes tetapi tidak bisa ditemui karena sakit keras. Sampai sini saya menebak bahwa telinga dalam kotak kardus itu milik Sarah Cushing. Tapi, seperti biasa tebakan saya salah. Hehe.

Penyelesaian kasus ini cepat saja bagi Holmes, dan dia berpesan pada Lestrade agar tidak mencatut namanya dalam proses penangkapan pembunuhnya. Karena apa? Karena pemecahan kasus ini sangat sederhana. Maunya diberitain kalau kasusnya besar dan menarik kali ya. Biasa, kesombongannya Holmes. Dan oh ya, Miss Cushing bahkan seharusnya tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pembunuhan ini. Ditutup dengan Holmes berbicara,,, ah, baca sendiri nih ya.

image
Holmes berbicara tentang dunia dengan kebetulan yang membingungkan. Nah loh, iya kan mending saya captured di sini.

Lanjut ke cerita ke dua yaitu Rahasia Gedung Tua Shoscombe. Kasus dimulai dari surat seorang klien bernama John Mason, pelatih kuda pacuan di area gedung Shoscombe. Keanehan dirasakan Mason mulai dari seminggu sebelumnya. Kakak beradik yang menghuni gedung Shoscombe mengusik penasaran Mason, karena itulah dia berkonsultasi dengan Holmes. Ada Sir Robert Norberton dan kakak perempuannya Lady Beatrice Falder yang berkelakuan di luar kebiasaan. Lady Beatrice yang terbiasa tiap hari pergi ke luar rumah untuk menyapa Prince, kuda pacuan terbaik mereka, sekarang hanya melewati istal kuda tanpa menyapa. Dan pun, sir Robert ‘membuang’ anjing Spaniels kesayangan kakaknya.

Selain perubahan kedua kakak beradik itu juga ditemukannya potongan tulang paha dari sisa pembakaran perapian di gedung tua itu. Holmes yang langsung tertarik dengan cerita Mason pun mendatangi area Shoscombe, pastinya dengan diam-diam agar tidak kepergok Sir Robert. Saya sempat ragu melanjutkan membaca karena ditemukan beberapa mayat yang malah bisa dikategorikan sebagai mumi di ruang tanah bawah gedung (ketauan deh penakutnya). Tapi ya mau gimana lagi, masa iya engga lanjut baca, hiks. Dan pas banget ngebaca sore menjelang maghrib dan sendirian pula.

Saya selalu suka saat Holmes dan Watson mulai menebak kemana arah penyelesaian kasus mereka. Kemungkinan besar Lady Beatrice sudah dibunuh oleh adiknya karena motif ekonomi dan digantikan perannya oleh pelayan wanita Lady Beatrice. Mason sebelumnya memberi info bahwa pelayan ini punya affair dengan Sir Robert yang terkenal ‘doyan’ perempuan. Wew…. Jadi, tulang paha yang ditemukan di perapian itu dari mayat Lady Beatrice?!

Wah wah, lagi-lagi saya salah menebak. Kasus diakhiri dengan lumayan nice, ndak seperti cerita pertama yang berisi dendam, amarah dan pembunuhan keji. Prince si kuda pacuan andalan memberi banyak keuntungan pada Sir Robert. Saya lebih suka kasus seperti ini daripada pembunuhan dengan banyak dendam, hiy, seram.

Untuk 2 versi singkat kisah Sherlock Holmes ini, saya beri 5 dari 5 bintang. Walau cuma sebentar bacanya, engga bosen untuk baca lagi dan lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s