fiksi

Claudine di St. Clare, review & si Kembar Berulah, review.

Okay kembali nge ripiyuw lagi setelah bulan Ramadhan usai. Mudik dan temu kangen keluarga pun sukses. Kembali ke rumah dengan beberapa buku yang ngisi koper mudik. Horeeey, karena mudik adalah bisa ke toko buku yang lebih banyak pilihannya. Barengan kemarin lagi ada holiday school fair githu deh. Jadi dapat beberapa buku fiksi anak-anak. Yah,  nampaknya saya memang berjiwa muda selalu yah, tsssaaaah. Paling nyaman baca petualangan anak-anak kecil.

Nah, post kali ini saya isi 2 review buku lawas terjemahan. Kenapa saya jadikan satu, yaitu dua buku ini bertokoh utama anak-anak kembar. Jadi kebiasaan kalau love at the first sight sama buku, saya langsung beli tanpa baca sinopsisnya. Sampai rumah baru ngeh kalau sama-sama berisi kisah twins githu deh.

image

Judul asli : Claudine at St. Clare’s
Judul terjemahan : Claudine di St. Clare
Penulis : Enid Blyton
Alih bahasa : Agus Setiadi
Cetakan ketujuh : Juli 2010, 256 hlm.
ISBN : 978-979-22-5370-2
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Beli karena terpukau dengan desain sampulnya (oleh maryna_design@yahoo.com), hangat di mata dan di hati, ckckck. Penulisnya terkenal kece untuk genre kids fiction, lumayan lama juga ndak baca-baca buku lawas Enid Blyton.  Saya comot dari rak obralan gramed sehargaaaa lupa. Hehe, 10ribu kalau ndak salah. Dengan kombinasi 3 faktor itulah saya berhasil membawa buku ini ke perantauan.

Ceritanya ini buku seri si kembar Pat dan Isabel di kelas 4 St. Clare. Pertama saya kira mereka kelas 4 SD, tapi diceritakan anak-anak kelas 4 ini berumur 16 tahun. Mungkin kelas 1 nya itu satu SMP yah. Beberapa ilustrasi gambar ada di dalam buku ini. Pas selesai baca baru tau kalau ini adalah buku serian, gegara ada iklan seri nomer lainnya di bagian belakang.

Ups, belum-belum sudah sampai belakang aja ceritanya. Jadi, si kembar ini setelah kembali dari libur musim panasnya masuk ke tahun ajaran baru. Dimulailah cerita mereka dengan beberapa teman baru. Ada anak pindahan dan anaknya karyawan dan ada keponakannya seorang guru. Si Claudine yang jadi judul buku ini, anak baru yang merupakan keponakan Mam’zalle, guru bahasa Perancis.

Buku ini tidak melulu bercerita dari sudut pandang si kembar. Lebih bercerita tentang awal tahun ajaran baru. Para anak pindahan, sekolah di St. Clare yang membutuhkan adaptasi di sekolah ini. Pun untuk anak-anak lama. Si kembar dan kawan-kawannya yang sudah lebih paham tentang kebiasaan di St. Clare beradaptasi dengan tingkah laku para pendatang yang,,, ada yang super iseng ada juga yang super sombong.

Si Claudine diceritakan super iseng, sampai-sampai tuh liat di ilustrasi sampulnya. Ada wanita yang dandan cantik tapi ko’ basah kuyup berantakan. Nah, itu ulahnya Claudine. Beberapa keisengan lainnya dilakukan siswa yang lebih lama bersekolah di St. Clare. Gegara mereka bosan dengan jam belajarnya, bom kecil dengan berdaya ledak rendah menjadikan mereka sukses belajar di luar kelas. Ups, bukan bom dink,,, tapi semacam bom gas busuk.

Yang saya suka dari buku ini, walaupun banyak keisengan si kembar dan teman-temannya, tetapi mereka berani menanggung kesalahan dan mengaku pada guru. Bahkan mereka membuat Claudine cukup kerasan untuk tinggal di St. Clare dan mengajarinya agar tidak terlalu jahil.

Kecuali yah, ada satu anak baru yang di akhir cerita harus pergi dari St. Clare. Ceritanya cukup aman dibaca anak SD, bisa membayangkan bagaimana menjadi siswa sekolah berasrama. Tidak bisa bermanja-manja dengan orang tua. Anak yang paling manja pun bisa lebih baik setelah mau membuka diri pada si kembar dan teman-temannya.

3 dari 5 bintang saja untuk buku ini, agak sebal karena berseri dan baru punya satu seri doank.

image

Judul asli : Double Act
Judul terjemahan : Si Kembar Berulah
Penulis : Jacqueline Wilson
Alih bahasa : Poppy F. Chusfani
Cetakan kedua : Mei 2010, 208 hlm.
ISBN : 978-979-22-4524-0
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Lagi-lagi buku anak-anak kembar. Yang ini lucuuuu sekali. Dan ada sedikit hubungannya dengan buku si kembar di Stm Clare. Di dalam bukunya banyaaaaak ilustrasi gambar oleh Nick Sharratt. Oh ya, dan oleh Sue Heap. Jadi si kembar pertama yang bernama Ruby digambar oleh Sharratt, lalu adik kembarannya si Garnet ilustrasinya oleh Heap. Saya langsung tertawa mbacanya. Jangan-jangan para ilistratornya kembar juga, ckckck.

Ruby dan Garnet kompak dalam segala hal, juga kompak waktu tidak suka dengan Rose, ibu tiri baru mereka. Ayah mereka yang punya timbunan buku (jadi inget istilah timbunannya anak-anak BBI, hehehe) alias hobi baca dan beli berbagai buku bekas maupun baru, terbujuk oleh Rose untuk pindah ke desa kecil dan membuka toko buku di sana. Spontan si kembar mutung, sebal kali ya bahasa Indonesianya. Mereka berdua pindah ke sekolah yang mereka anggap aneh.

image

Sepertinya seram sekali yah gurunya. Tapi itu yang digambarkan Ruby di buku ini. Beda dengan gambaran Garnet. Jadi buku ini ditulis oleh si kembar bergantian. Nah, begini gambaran Garnet tentang sekolah baru mereka.

image

Konyol memang si Ruby, yang menulis dengan huruf miring itu Garnet, Ruby huruf tegak. Ruby mendominasi adik kembarnya. Lebih ceria, lebih berani, lebiiiih banyak omong. Garnet sebaliknya, dia bisa dengan mudah terkena demam panggung. Karakter Garnet inilah yang mengakibatkan mereka berdua gagal dalam casting film si kembar di St. Clare. Bayangkan saja dua anak kembar berkepang ini membintangi film dari buku seri yang salah satunya saya review di atas. Mereka mendapati ternyata banyaaak sekali anak kembar perempuan seperti mereka. Hanya kembarnya yang sama, ada bermacam anak kembar. Kelihatan ndak rincian anak kembarnya?
image

Gagal ikutan casting mereka lalu menemukan cara lain agar terbebas dari kehidupan membosankan di desa dengan ibu tiri yang tidak mereka sukai.

Ruby masih belum melepaskan keinginannya untuk bersekolah di St. Clare, bukan hanya sebagai bintang film tapi sekolah sungguhan. Yang berasrama, dengan kolam renang dan fasilitas keren lainnya. Beasiswa menjadi pilihan. Garnet si pendiam dan penurut ikut-ikutan saja dengan keinginan Ruby. Tapi, yah pada akhirnya walau kembar mereka ternyata tidak melulu harus selalu bersama. Bagus akhir ceritanya.

Ini gambar di akhir cerita, sayang kalau ndak saya simpan di sini, suka sekali.
image

5 bintang dari 5, iya sukaaa banget saya (alibi karena ngidam pengen punya anak kembar). Anak-anak SD boleh banget baca buku ini, walau ada bagian ibu tiri yang kejam, pastinya itu hanya gambaran si Ruby saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s