fiksi

Rampokan Jawa & Selebes (Peter van Dongen), review

image

Judul asli : Rampokan Compleet : Java & Celebes
Judul terjemahan : Rampokan Jawa & Selebes
Penulis : Peter van Dongen
Alih bahasa Jawa : Bernie M. Liem
Alih bahasa Selebes : Egbert Wits
Penyelaras Bahasa : Anggi Minarni
Tata letak isi : Era Saptiana
Desain sampul : Ryan Pradana
ISBN : 978-602-03-0770-1
168 hlm, 29,7 cm.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014

Itu saya kopikan dari lembar index nya. Jadi ini review pertama saya dengan buku novel grafis. Entahlah apa bisa disebut komik? Saya ngiler ini setelah baca postingan BBI yang intervew ama penulisnya daaaaan katanya ini historical githu. Wah, saya suka nih. Lalu googling dan ternyata harganya di atas 100k. Maka dari itu saya urungkan niat untuk beli online. Maka dari itu pulalah,,, begitu ke Gramedia di Purwokerto pas mudik kemarin, saya liat ini langsung nenteng dan cengar cengir kasih ke suami (buat dibayarin, hahaha). Dengan bermodus buat kado ultah (ye yeee ultah pertama sebagai istri) pun suami ngebolehin beli.

Plus saya iming-imingi kalau ini bentuknya komik githu, dia jadi tertarik ikutan baca. Malah, yang pertama saya ajakin baca bareng adalah si ponakan umur 3 tahun. Karena ada gambar harimau nya.

Lalu,,, eittts, jadi panjang lebar gini mukhadimahnya. Maaf maaf… masuk ke halaman 9 awal mula cerita. Gambarnya ko’ peti mati.

image

Ternyata bukan dink. Itu kandang harimau!!! Rampokan itu ternyata budaya Jawa, yaitu adu macan. Si macannya dimasukkin kandang tuh, lalu dibawa ke tengah lapang dan para penonton bersiap memegang tombak agak macan tak bisa lewat ke luar lapang. Yap, si macannya dikeluarin githu dari kandang ke tengah lapang. Akan ada nasib buruk kalau macannya sampai lolos. Maaf deh ya, 2 halaman cerita pertama langsung berasa, entah saya yang ndak konsen kali ya, terjemahannya susah dipahami. Tapi pas suami ikutan baca, eh sama dia juga ndak mudeng. Lebih ke arah : bahasanya tidak terlalu nyaman buat dinikmati. Selebihnya saya fokus ke gambarnya sih, dan lambat laun saya mulai menikmati kisahnya.

Menikmati gambarnya langsung saya berkesimpulan ini bukan komik, tapi memang novel (mbenerin kacamata). Wuits, keren euy, detail banget gambarnya. Toko-toko dengan tulisan ejaan jadoel. Segala pohon-pohonan dan baju-baju pribumi jadul sekali. Ya iyalah jadul. Ceritanya ini perjalanan Johan Knevel ke Hindia Belanda alias Indonesia tahun 1946 setelah kemerdekaan. Knevel anak bule Belanda kelahiran Selebes, Makasar. Rombongan kapal yang membawanya ke Hindia Belanda berisi banyak bule-bule relawan militer. Tujuan mereka yaitu menertibkan kembali pribumi yang berani memberontak setelah proklamasi kemerdekaan. Saya tidak bisa mengabaikan nurani saya berkata “wooooh dikira tanah ini milik mereka apa” sambil meraup kerikil depan rumah dan ngelempari ayam yang sudah bersiap mau berak. Ups, kebawa suasana perang. Maka demi tercapainya konsentrasi membaca, saya mengabaikan gejolak nurani, ayam pun berhasil berak, dan saya pun mengepel teras rumah, hiks.

Tokoh-tokoh utama lainnya ada Frits de Zwart, Antonie Van Daalen, Erik Verhagen, Chris Jonker dan Lisa Mangar. 3 yang terakhir saya sebut agak bisa saya hapal namanya karena diceritakan sampai akhir buku.

Ga seru ya kalau saya ceritakan di kapal ada kejadian apaan. Tapi saya sebutkan saja di kapal yang membawa Knevel kembali ke tanah kelahirannya inilah awal dia mendapatkan identitas baru sebagai Erik Verhagen. Tujuan utama Knevel lebih ke kepentingan pribadi. Pengin nostalgiaan. Singkatnya memang begitu sih. Dulunya pas kecil dia diasuh wanita pribumi di Selebes. Pengin meet up githu sama Ninih, pengasuhnya, hehe. Saya pribadi bisa merasakan kaitan emosi dengan Knevel karena punya pengasuh masa kecil kesayangan juga. Bisa dibilang logis sih niatan dia balik lagi ke Indonesia setelah nyaman di Belanda.

Karena bentuknya grafis jadi lebih asik melihat Indonesia tempo dulu. Tetap dengan suasana perang, tentara Belanda lawan pergolakan pribumi. Banyak bedil, pisau dan diceritakan juga ilmu gaib perdukunan yang katanya membuat pribumi lebih kuat. Membuat sang pawang rampokan kebal dan tak takut berhadapan dengan macan. Yap, selain suasana perang, si harimau beberapa kali muncul di ibaratkan seperti rohnya Knevel.

Ninih si pengasuh pernah bercerita ke Knevel kecil, bahwa saat macan berhasil lolos dari acara rampokan, maka itu pertanda buruk. Di atas saya lupa bercerita kalau agak rancu dengan kata rampokan. Setelah tahu arti istilah rampokan jawa, jadi agak bersyukur karena ceritanya bukan tentang perampokan harta benda. Berterimakasih kepada Peter van Dongen yang sudah mengangkat tema ini sehingga saya tahu tradisi leluhur Jawa dahulu.

Buku ini sebenarnya pertama terbit terpisah, antara Rampokan Jawa dan Selebes. Tapi versi yang saya punya memang digabung jadi satu buku. Mulai di cerita Selebes para tokoh relawan bule ini pergi Makasar selepas Batavia mulai memanas. Saya skip adegan bom-boman dan tembak-tembakannya. Seru lihat gambarnya sendiri deh. Beberapa membuat saya kaget karena tanpa sensoran.

image

Knevel mulai memakai identitas Verhagen sebagai samaran dan menuju rumah kecilnya di Selebes. Akhirnya memang dia bertemu dengan Ninih, tapi not a happy ending story buat Knevel. Tapi proses pertemuan Knevel dengan Ninih itu keren. Peter van Dongen oke banget bikin ceritanya. Membuat saya langsung nulis review nya ini. Memang si ujung-ujungnya drama, tapi plus settingnya suasana pergolakan kemerdekaan dan sisipan cerita harimau yang lolos dari rampokan itu yang bikin dramatis abis, tsaaah.

image

Jadi memang ndak nyesel agak mahal beli buku ini. Terjemahan yang kaku bisa dimengerti lah. Puas dengan gambar dan ceritanya. Walaupun ini novel bergambar, bukan berarti bisa dibaca anak kecil dengan bebas. Saya rekomendasikan boleh dibaca mulai umuran anak SMP yah, adegan perang dan beberapa katanya kasar juga.

Akhirnya saya tutup review dengan memberi 4 bintang dari 5. Puas mbacanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s