fiksi

Kira-Kira (Cynthia Kadohata), review

image

Judul Asli : Kira-Kira
Penulis : Cynthia Kadohata
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
Editor : Dini Pandia
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan : Pertama, 2009
200 halaman, 20 cm
ISBN : 978-979-22-4307-9

Pada tahun 1950-an, ketika masih di taman kanak-kanak, Katie Takeshima pindah dari Iowa ke Georgia, AS, bersama orangtua dan kakaknya, Lynn. Sebagai keturunan Jepang di AS, orangtua Katie hanya memperoleh pekerjaan seadanya di perusahaan pengolahan ayam.
Katie mempwrcayai dan mengagumi Lynn, bahkan meskipun nasihat kakaknya itu kadang terasa tak masuk akal. Lynn juga memberitahunya segala hal, mulai dari betapa istimewanya warna langit, laut, dan mata manusia sampai masalah rasial.
Ketika Lynn mengidap limfoma, mereka semua sedih, namun seiring perjuangan mereka menghadapi penyakit yang memburuk itu, Katie terus berpegangan pada pendapat Lynn, bahwa selalu ada sesuatu yang gemerlap – kira-kira – di balik semua ini.

Mengira-ngira isi buku ini, sesuai judulnya, kira-kira. Kira-kira apakah isinya? Menyedihkankah sesuai uraian singkat di sampul belakangnya? Wah, saya kurang teliti membaca. Kira-kira bukan arti dalam bahasa Indonesia. Kira-kira diambil dari bahasa Jepang. Lynn sangat menyukai kata kira-kira, gemerlapan. Lynn dan Katie, dua gadis kecil keturunan Jepang yang tinggal di Amerika. Gemerlapan, itulah yang sangat disukai Lynn. Katie, menyukainya juga. Katie menyukai semua hal yang dikatakan Lynn. Sosok adik yang dekat sekali dengan kakaknya.
Perekonomian keluarga berdarah Jepang itu tidak bagus. Ayah dan Ibu mereka harus bekerja keras. Membeli rumah. Selama ini mereka tinggal di apartemen, bertetangga dengan orang keturunan Jepang lainnya. Itulah impian keluarga. Walau begitu mereka bersikeras tidak akan meminjam uang dari bank untuk memenuhi impian mereka. Katie dan Lynn pun mulai ikut menyisihkan uang jajan untuk ditabung. Membeli rumah yang bercat biru, Katie menyukai warna biru, kira-kira. Gemerlap dan berkilau seperti warna langit. Atau berkilau seperti matahari tenggelam di cakrawala lautan. Kira-kira, berkilau gemerlapan kesukaan mereka berdua.

Lynn digambarkan sebagai anak cerdas dalam nilai sekolahnya. Dia juga populer sebagai pemimpin anak-anak waktu bermain. Kebalikannya dengan Katie. Dia begitu susah berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Juga susah beradaptasi dengan teman bermain. Bahkan dia tidak punya teman dekat yang seumuran.

Di buku ini menceritakan bagaimana keturunan Jepang saat itu yang masih belum dianggap sejajar dengan penduduk lokal. Lynn sudah paham kalau teman-teman sekolah mereka lebih suka bermain dengan sesama anak berkulit putih. Lynn juga memperhatikan Ibu mereka yang jarang mengobrol kecuali dengan sesama keturunan Jepang, yang jumlahnya hanya sedikit. Pekerjaan bagi Ayah dan Ibu mereka pun terbatas. Ayah mereka bekerja di penetasan telur ayam, seperti kepala keluarga keturunan Jepang lainnya. Ibu mereka di tempat pengolahan ayam.

Sehari-hari Katie lebih banyak bermain dengan Lynn, atau seumuran dengan kakaknya itu. Katie memang diasuh Lynn, karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja. Kemudian lahir adik mereka, Sammy. Katie mempunyai tugas baru, menjadi pengasuh Sammy.

Beranjak memasuki usia puber membuat Lynn mulai berubah. Mempunyai teman dekat, Amber, yang sama-sama memiliki perilaku aneh. Aneh dalam sudut pandang Katie. Katie masih suka bermain makanan dengan Sammy. Katie terkadang masih juga berkemah dengan Paman mereka layaknya anak kelas 1 SD lainnya. Sedangkan Lynn dan Amber mulai suka berbisik-bisik membicarakan cowok populer di kelas mereka. Meletakkan buku di atas kepala dan berlatih berjalan dengan anggun. Katie menganggap mereka bodoh. Tentu saja Katie tidak mengutarakannya langsung, dia begitu suka dan hormat pada Lynn.

Libur musim panas Katie saat berusia 11 tahun, dia bertemu teman akrab seumuran. Katie dan Sammy harus ikut ke tempat Ibu bekerja. Di situlah Katie bertemu dengan Silly. Silly ikut juga ke tempat pengolahan ayam tempat ibunya dan ibu Katie bekerja. Walau tak berdarah Jepang dia bisa berteman dengan Katie.

Saat itu pula mulai lah Lynn menunjukkan tanda-tanda penyakit limfoma. Tiba-tiba merasa sangat lelah sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ayah dan ibu memutuskan mengambil pinjaman kredit dari bank untuk membeli rumah. Rumah impian mereka. Tapi keluarga ini menyebutnya rumah Lynn. Berharap di rumah sendiri Lynn bisa sembuh dari penyakitnya.

Katie masih saja kesulitan menentukan tema untuk tugas cerita di sekolah. Dia tidak paham bagaimana Lynn dengan mudah bisa menentukan tema atau jawaban soal-soal lainnya. Sering kali Katie dibantu oleh Lynn, diberi sedikit petunjuk untuk PR nya.

Kondisi tubuh Lynn semakin memburuk. Katie hanya paham dia harus memberi Lynn obat sesuai jadwal. Juga memasak hati untuk dimakan Lynn agar tidak gampang kambuh sakitnya. Katie tetap memperhatikan Sammy, dia menyisihkan hati juga untuk dimakan Sammy. Orang tua mereka bekerja lebih keras lagi, untuk membayar cicilan rumah juga biaya pengobatan Lynn.

Aroma ceritanya mulai menjadi suram. Tapi bahasanya tetap nyaman dibaca. Kalimat-kalimatnya pendek, lugu dan disesuaikan dengan sudut pandang anak belasan tahun. Entah bagaimana saya mulai ikut bersedih juga.

Sammy mengalami kecelakaan saat berpiknik bersama dua kakak perempuannya. Tanpa diduga seorang warga lokal berkulit putih membantu mereka. Katie yang baru pernah mengobrol sendirian, langsung dengan orang dewasa berkulit putih sangat terkejut. Lucu penggambaran pria idamannya ia tambahkan seperti orang yang baru menolong adiknya itu.

Bisa dikira-kira bagaimana akhir cerita buku ini. Keluarga mulai putus asa, Katie mencoba tetap tegar, bahkan dia berusaha belajar memasak makanan yang lebih bervariasi. Bertekad memberi asupan gizi lebih baik untuk keluarga. Dia juga berusaha belajar lebih keras agar prestasi sekolahnya meningkat.

Ayah mereka yang selalu menjadi paling pendiam menunjukkan keadaan emosi yang mengejutkan pada Katie. Katie diajarkan untuk menjadi berani meminta maaf dan bertanggung jawab atas suatu kesalahan. Saya suka bagian cerita ini. Melibatkan polisi yang mencegat mereka di tengah jalan. Tapi berakhir pada Katie kekenyangan makan Taco.

Tipis saja buku ini, tapi berisi banyak hal bagi saya. Kehidupan keturunan Jepang yang tinggal di Amerika tahun 1950. Persoalan keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Tapi ada juga warga lokal yang tanpa segan membantu mereka. Tiap cerita berurutan santai tanpa terkesan terburu-buru. Sudut pandang cerita Katie memandang hidup dengan sederhana.

Saya sedikit terkecoh dengan sampul buku biru berbunga-bunga ini. Tidak seperti ocehan anak gadis berumur 11 tahun. Walau memang warna birunya sesuai dengan kesukaan Katie dan Lynn. Tapi tidak mencerminkan impian seorang anak yang kira-kira, gemerlapan. Terkesan seperti buku berisi cerita mendalam. Tapi saya tidak bisa mengelak isi ceritanya memang dalam.

Buku ini disebutkan sebagai pemenang Newbery Medal. Hasil googling saya di bledugmrapi.blogspot.com/2012/06/mengenal-penghargaan-buku-anak-anak.html?m=1 , menyebutkan penghargaan ini cukup bergengsi dari segi teks buku.

5 bintang dari 5 untuk buku ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s