fiksi

Ayat-Ayat Cinta 2 (Habiburrahman El Shirazy), review

image

Judul : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Editor : Syahruddin El-Fikri dan Triana Rahmawati
Cover : Putri Suzan Nurtania
Penerbit : Republika
vi + 698 halaman, 13,5 x 20,5 cm
Cetakan VII, Desember 2015
Harga : Rp. 95000 (di tokbuk Gramedia)

Kaget novel ini lumayan “bantal” dengan tebalnya yang hampir 700 halaman. Adek yang punya nih novel, saya ikutan baca aja (horay ngirit), setelah dia selesai dalam 3 hari. Ngebut juga dia bacanya, eh saya sama aja 3 hari juga selesai nih novel. Waktu baca bab-bab pertama si adek tanya ke saya “Akhir Ayat-ayat Cinta 1 tuh kek mana sih mbak, si Aisha memang kemana…?”. Nah loh, saya malah nge blur ndak ingat cerita AAC1 kaya’ apa, agak ngecampur dengan Ketika Cinta Bertasbih. Lalu ingatan saya langsung ke Fedi Nuril, karena Fahri si tokoh utama novel ini diperankan oleh akang Fedi di versi film layar lebarnya AAC. Dangkal ingatan saya, tapi kalau nyangkut artis ganteng inget deh, hehe. Apakah kalau novel difilm kan artisnya tetap kang Fedi? Karena tokoh utamanya masih sama, Fahri Abdullah. *ngarep.

Awal novel dimulai dengan penggambaran suasana Edinburgh, sebuah kota di Skotlandia tempat Fahri sekarang tinggal. Bahasa kang Abik (nama panggilan si penulis) menggambarkan kotanya dengan detail, alamnya, sampai toko-toko dan restoran sepanjang jalan. Ingat Skotlandia pasti ingat alat musik tiupnya yang terkenal, bagpipes, detail narasi kang Abik juga membuat telinga saya dimanjakan dalam bayangan penggambaran awal cerita. Panjang lebar memang bahasa si akang penulis ini. Saya ingat awal kisah AAC1 juga seperti ini. Cuma memang beda kota yang diceritakan.

Lalu masuk cerita yang membuat saya penasaran kemana Aisha, istri si Fahri. Mau tidak mau saya ikut-ikutan seperti si adek, mengingat jalan cerita AAC1. Nampaknya happy ending antara Fahri dan Aisha, sementara Maria meninggal. Cuma itu ingatan saya. Di awal novel ini Fahri selalu menolak menjelaskan kemana dan apa yang terjadi dengan istrinya itu. Sebagai pendamping utama ada Paman Hulusi, sopir merangkap asisten pribadi Fahri. Fahri diceritakan sukses menjadi pengajar di sebuah universitas di Edinburgh. Sukses pula dengan bisnis butik dan minimarket yang mempunyai cabang di Edinburgh.

Selain pembaca yang diajak menerawang kemana menghilangnya Aisha, awal novel disuguhkan dengan kecakapan Fahri mengkomunikasikan Islam sebagai agama yang damai. Tema yang kuat diangkat dalam novel ini memang pandangan masyarakat barat bahwa Islam itu radikal dan menjurus teroris. Fahri terlibat tanya-jawab singkat tentang muslim radikal dengan salah satu mahasiswa pascasarjana nya, Ju Suh. Kang Abik dengan halus menghidupkan tokoh Fahri yang kuat sebagai pakar filologi Islam. Saya suka analogi sederhana yang digunakan Fahri menjawab pertanyaan mahasiswanya tentang teroris pelaku bom bunuh diri, pada halaman 9.

“Jawaban secara antropologis, sosiologis, juga politis, silakan dicari sendiri. Saya ada analogi sederhana. Jika kalian punya pohon apel atau mangga yang sedang berbuah, dan kau sudah merawatnya dengan baik, bisakah kalian pastikan seluruh buahnya baik? Tidak ada satupun yang busuk?…”

Mulai dari sini pun, isi buku sudah mulai menarik, saya tidak perlu menunggu sampai pertengahan buku
untuk mendapat feel membacanya.

Fahri dan paman Hulusi tinggal di perumahan Stoneyhill Grove, dimana mereka berdua menjadi kaum minoritas karena status Muslim mereka. Dua kakak-beradik Jason dan Keira, nenek Catrina dan Brenda tetangga di perumahan Fahri tinggal, mempunyai pandangan tersendiri terhadap Islam. Pun bersikap kepada Fahri. Dengan kemampuan finansialnya yang lebih dari cukup, Fahri diceritakan membantu para tetangga di Stoneyhill Grove yang didera konflik.

Tokoh dari AAC1 dimunculkan kembali, yaitu Misbah, teman sekosan Fahri waktu di Mesir. Kebaikan dan kemampuan Fahri turut membantu Misbah seperti dia membantu para tetangganya di Stoneyhill Grove. Tokoh lain ada Heba serta ayahnya, dan pengemis wanita misterius bernama Sabina. Kalau saja Fahri perempuan, maka saya akan menyebutnya sebagai janda kembang. Fahri dengan sikap dan perilaku layaknya malaikat, berusaha dijodohkan dengan banyak wanita oleh para kenalannya. Salah satunya dengan Hulya yang masih ada hubungan saudara dengan Aisha. Bayang-bayang dan kenangan bersama Aisha lah yang masih belum menjadikannya move on. Konflik Palestina dan zionis Yahudi mulai muncul sedikit memanaskan cerita, lalu terkuaklah alasan hilangnya Aisha.

Satu persatu tokoh memunculkan konfliknya, Sabina si gelandangan bercadar ditolong Fahri dengan tinggal di bassement rumahnya. Saya agak jengah, pria muslim se-alim Fahri ko’ malah membolehkan wanita yang bukan mahromnya tinggal bersama. Memang letak kamar yang dihuni Sabina terletak beda lantai dengan Fahri maupun Paman Hulusi dan Misbah. Iya, Misbah pun dibantu Fahri tinggal di rumahnya.

Keira mengagetkan dengan tindakan nekadnya demi meraih impian menjadi pemain biola profesional. Masa lalu keluarga mengendapkan dendam besar terhadap kaum Muslim dalam diri Keira. Bantuan Fahri yang mulai melunakkan Jason, adiknya, disalah artikan Keira layaknya musang berbulu domba. Hulya kembali muncul. Kemiripannya dengan Aisha membuat hatinya berdesir, eciyeee. Hulya juga piawai memainkan biola seperti Aisha. Nantinya Hulya dan Keira berhubungan dengan madam Varenka karena keahlian bermain biola mereka.

Syaikh Utsman guru Fahri di Mesir juga turut menjodohkannya dengan seorang wanita, Yasmin. Akankah Fahri terpincut dengan wanita lain selain Aisha? Jawabannya,,, sudah bisa saya tebak. Tapi alur cerita sungguh mengesankan. Begitu banyak yang mengejutkan.

Ulasan-ulasan keilmuan terutama tentang agama Islam mengisi novel ini. Ada dua kali Fahri mengikuti debat, panjang lebar uraiannya. Walau begitu tetap bisa saya nikmati dengan santai. Cuma debat kedua agak membuat saya bosan. Mungkin saya sendiri yang sudah terburu-buru ingin membaca bab selanjutnya. Sudah penasaran dengan kelanjutan cerita cintanya Fahri. Namun tetap saja sayang melewatkan bagian debat yang seru itu. Kang Abik menunjukkan background nya yang jelas sebagai sastrawan beralmamater Al-Azhar Kairo. Berbagai sumber kajian Islam maupun agama lain disebutkan, Al Quran, kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Banyak ilmu baru yang saya dapatkan dari novel ini. Misalnya sebutan amalek diulas dari sudut pandang Yahudi, Nasrani dan Islam. Apa itu amalek? Coba googling kalau penasaran, atau baca di buku ini, hehe.

Bukan itu saja, detail cerita sederhana semisal sepatu yang dikenakan Fahri untuk debat di Oxford menarik bagi saya, di halaman 561.

Ada banyak sepatu resmi, tetapi Fahri memilih jenis Brogue. Ini jenis sepatu kulit bercorak. Bagian depannya tidak lurus, tapi melengkung. Konon jenis baroque ini berasal dari Irlandia.

Walau tak bisa membayangkan bagaimana rupa sepatu itu, tapi saya berterimakasih Kang Abik menyisipkannya di novel ini, jadi tahu saya ada jenis sepatu bernama itu, hehe.

Tak melulu kisah cinta dan keilmuan Fahri saja, ada bagian yang menegangkan saat tokoh Baruch mulai menunjukkan sisi radikalnya. Baruch ini anak tiri nenek Catrina. Saya lumayan kaget dengan bagaimana kang Abik menuntaskan konflik dengan Baruch.

Agaknya tokoh Fahri sangat sangat sangat dermawan, sampai-sampai saya lumayan setuju dengan ungkapan paman Hulusi di halaman 487.

“Saya melihat ada kesombongan dalam diri Hoca, semua mau diselesaikan dengan uang.
… Tapi apa hasilnya?! Hanya kemubaziran belaka! Inilah jadinya kalau Hoca terperangkap cara kapitalis!”

Memang sugih sekali sih si Fahri, tapi jujur saya jadi mupeng pengen kaya raya juga , amiiin ^^. Sabina sebagai muslimah yang direndahkan sebagai gelandangan, juga dengan hati lembut mau membantu orang lain yang berbeda keyakinan. Memang novel ini cocok dikatakan sebagai novel pembangun jiwa. Banyak pengingat moral agar lebih bijak dalam bersikap.

Novel 700-an halaman sepertinya bisa sangat panjang saya  mereviewnya. Namun ada yang sedikit menganggu, yaitu saya menemukan lumayan banyak salah pengetikan. Seperti pada halaman 488, kepanjangan dari CASAW ditulis dengan huruf tebal. Lalu kalimat berikutnya masih tercetak bold juga. Beberapa salah ketik tapi saya tidak mencatat halaman berapa saja.

Akhir cerita memang sudah bisa ditebak. Tapi serius banget nih prosesnya yang bikin saya terkejut-kejut.
4 dari 5 bintang untuk novel ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s