Non Fiksi

Bertanam Hidroponik Gak Pake Masalah (Purwadaksi Rahmat), review

image

Judul : Bertanam Hidroponik Gak Pake Masalah
Penulis : Purwadaksi Rahmat
Penyunting : Tintondp
Penyelaras akhir : Nofiandi Riawan
Foto : Sardo Michael, Dok Shutterstock, Dok Astuningsih, dan Dok Agromedia
Desain cover & Tataletak : Mawardi Noor
Penerbit : PT Agromedia Pustaka
Cetakan pertama, 2015
ISBN : 979-006-558-2
Harga : Rp 49000 (di sini)

Begitu banyak keistimewaan sayuran yang dihasilkan dari sistem penanaman hidroponik. Namun, bukan berarti sistem penanaman ini tidak memiliki kelemahan. Ada saja kendala ketika menerapkan hidroponik di rumah. Permasalahan seperti sosok tanaman kerdil, warna daun kekuningan, daun bolong-bolong, akar membusuk, hasil semai tidak kunjung berkecambah merupakan hal yang paling sering dijumpai.

Buku ini hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Disarikan dari berbagai pengalaman para pakar dan praktisi hidroponik, baik diskusi langsung maupun sumber-sumber yang ada. Membahas berbagai hal yang kerap dikeluhkan hobiis hidroponik, dari perawatan harian, perlakuan pada musim hujan dan kemarau, hingga pencegahan dan penanggulangan serangan hama dan penyakit.

Segernya sayur di sampul buku, pengin rasanya nge cowel si sayur pakai sambel terasi, nyam nyam…. Sayuran dari hasil hidroponik katanya sih terasa lebih segar, apalagi yang ditanam sendiri. Saya mencoba membenihkan sedikit bibit sawi pokchoy, tapi setelah hampir 2 bulan menunggu tralalalaaaa,,, gagal. Sedih. Entah kena penyakit atau entah airnya yang kurang nutrisi.

Nah, kebetulan dapat buntelan buku ini dari penerbit Agromedia. Horey terimakasih BBI dan Agromedia. Cocok sekali buat saya yang butuh ilmu untuk memecahkan kendala bertanam ala hidroponik. Penasaran kenapa bibit sawi saya layu waktu dipindah dari tempat penyemaian. Batangnya kurus dan daun menguning. Jawaban masalah seperti yang saya alami komplit dibahas dalam buku ini.

Terdapat 8 bab, mulai dari pengenalan hidroponik dan jenisnya sampai penanganan pascapanen.

Hidroponik merupakan metode bercocok tanam dengan memanfaatkan air yang diperkaya dengan unsur hara (nutrisi) untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman

(halaman 3).

Metode ini sedang nge trend terutama untuk masyarakat perkotaan yang tidak mempunyai banyak lahan. Ketidakbergantungannya terhadap media tanah menjadikan hidroponik dapat diterapkan di halaman sempit juga tanpa penyiraman rutin. Botol air mineral bekas dapat digunakan sebagai media penanaman, irit serta dapat dipakai berulang kali. Keunggulan hidroponik lainnya dibahas singkat di awal bab pertama. Saya lampirkan keunggulannya dibandingkan sistem tanam secara tradisional di halaman 9.

image

Saya baru tahu ada beberapa jenis sistem hidroponik. Yang menarik bagi saya yaitu wick system, merupakan sistem paling murah dan praktis. Bentuknya seperti sumbu kompor, air nutrisi dialirkan melalui semacam kain. Tiap sistem yang dipaparkan ditambahi dengan tips-tips singkat.

Selanjutnya dibahas syarat hidup tanaman hidroponik. Mulai dari air yang digunakan, suhu, pengaruh cuaca, dan oksigen terlarut yang baik bagi tanaman hidroponik.

Pembahasan buku dengan tipe tanya-jawab. Warna tulisan pertanyaan berbeda dengan warna jawaban. Metode penulisan seperti ini membantu saya menemukan dengan cepat permasalahan dan cara mengatasinya. Kertas buku ini licin seperti majalah. Dan yang saya suka tiap halaman full colour dengan gambarnya yang berwarna-warni. Seger melihat foto sayuran berwarna cerah.

Ohya, percobaan pertama saya menyemai biji sawi yang tidak semuanya tumbuh terjawab alasannya di bab 3. Tata cara penyemaian yang benar dijelaskan langkah per langkah. Dari awal saja saya sudah salah tidak merendam biji dengan air hangat. Jadi tahu langkah yang betul setelah baca buku ini. Air yang digunakan secara umum menggunakan pupuk sehingga disebut sebagai air nutrisi. Dijabarkan jenis pupuk dan unsur hara apa saja yang diperlukan sebagai air nutrisi.

Tingkat keasaman (pH) ideal perlu diukur secara berkala. Nah, apalagi gunanya pengukuran ini. Ternyata masalah daun berwarna pucat, pertumbuhan kerdil dan bagian akar menebal dapat disebabkan oleh  keracunan karena defisiensi unsur hara.

image

Bab 6 berisi pengukuran nutrisi dengan EC dan TDS meter. Masing-masing jenis tanaman membutuhkan tingkat nutrisi berbeda. Karena itu diperlukan pengukuran dengan kedua alat tersebut.

Hama dan penyakit dibahas di bab 7. Diuraikan contoh membuat pestisida nabati yang bahan-bahannya diambil dari bumbu dapur. Ternyata sederhana sekali. Percobaan saya sebelumnya termasuk yang gagal menggunakan sejumput r*yco, hehe, karena asal mencomot resep pestisida dari laman internet.

Bab terakhir membahas pemanenan sayur, juga tips pengemasan produk. Dijabarkan dalam sebuah tabel cara tanam berbagai jenis sayur juga lamanya sampai bisa panen. Bayam misalnya, dapat dipanen bertahap setiap 5 hari sekali. Wow, bisa dibayangkan kalau sukses menanam bayam hidroponik, bisa tiap minggu ngesayur bayam panenan sendiri, semoga beneran berhasil, hehe.

Buku panduan memecahkan masalah ini saya anggap sesuai dengan harganya. Bagi pemula seperti saya cocok sekali. Bahasanya mudah dipahami dan singkat. Semoga bisa menambah koleksi Agromedia lainnya.

Rating : 4 dari 5 bintang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s